Life
Thursday, November 9, 2017
Friday, July 28, 2017
Ego
Kadang ingin bebas.
Ingin jadi apa yang aku inginkan tanpa perlu berpikir tentang orang lain.
Pergi kemanapun kapanpun dengan siapapun.
Ah mungkin ini aku saja yang sedang letih dengan kehidupan yang begitu menyita waktu.
Seakan kebebasanku tidak lagi milikku.
Harus bangun pagi, pulang pada waktu yang ditetapkan, mengerjakan tugas, belajar untuk ujian, menunggu hasil dan begitu seterusnya sampai segala persiklusan ini berakhir.
Kadang aku ingin bisa memilih tujuan hidupku tanpa perlu diintervensi oleh orang lain.
Tanpa perlu aku berpikir keras efek samping pilihanku terhadap orang di sekitarku.
Tapi aku selalu berpikir keras mengenai orang lain hingga tanpa kusadari aku mulai mengubur satu persatu keinginan besarku.
Hidup ini harus berkorban katanya.
Dan hanya aku yang bisa menentukan siapa yang akan dikorbankan.
Meskipun jelas, diriku akan lebih dikorbankan.
Bukankah sejak SD kita selalu diajari untuk mementingkan kepentingan bersama dibanding kepentingan sendiri bukan?
Ingin jadi apa yang aku inginkan tanpa perlu berpikir tentang orang lain.
Pergi kemanapun kapanpun dengan siapapun.
Ah mungkin ini aku saja yang sedang letih dengan kehidupan yang begitu menyita waktu.
Seakan kebebasanku tidak lagi milikku.
Harus bangun pagi, pulang pada waktu yang ditetapkan, mengerjakan tugas, belajar untuk ujian, menunggu hasil dan begitu seterusnya sampai segala persiklusan ini berakhir.
Kadang aku ingin bisa memilih tujuan hidupku tanpa perlu diintervensi oleh orang lain.
Tanpa perlu aku berpikir keras efek samping pilihanku terhadap orang di sekitarku.
Tapi aku selalu berpikir keras mengenai orang lain hingga tanpa kusadari aku mulai mengubur satu persatu keinginan besarku.
Hidup ini harus berkorban katanya.
Dan hanya aku yang bisa menentukan siapa yang akan dikorbankan.
Meskipun jelas, diriku akan lebih dikorbankan.
Bukankah sejak SD kita selalu diajari untuk mementingkan kepentingan bersama dibanding kepentingan sendiri bukan?
Friday, March 17, 2017
The M word
Di usia yang emang bisa dibilang sangat rentan untuk menikah, suatu hal yang wajar kalo makin banyak orang yang nanya "kapan nikah?" "Kapan nyusul?" Dsbnya
Well, i know sih siapa juga yang gamau nikah di saat emang lagi banyak-banyaknya banget temen yang nikah. Including me. Ditanya mau ga nikah, ya jelas jawab mau. Tapi kalo ditanya kapan atau kenapa ga sekarang ya gimana woy aing masih sekolah :(
Kebetulan aku sebenernya udah ada calon (aamiin) tapi menikah atau tunangan dalam waktu dekat? Hmm sepertinya ga. Selain status yang masih belum paripurna jadi dokter, plus tuntutan ortu yang kepingin anaknya dapet gelar dulu sebelum nyebar undangan plus dana yang emang belum cukup buat nikah jadi yah gimanah emang belum bisa sekarang gitu. Orang mungkin mikir aku akan iri atau aku kebelet nikah juga atau aku mungkin sedih ga dinikah2in. WELL BEBAS DAH. Kenyataannya ga gitu juga. Iri sih udah punya pasangan tetap yang bisa diajak berbagi seumur hidup. Udah bisa menyempurnakan agama juga kalo nikah. Tapi ga sampe bersedih juga oy. Biasa aja....
Kenyataannya ku ngurus diri sendiri aja masih suka ga genah. Lagipula kuyakin menikah itu ga cuma sekedar party hip hip hura ala cinderella. Menikah lebih dari itu men. Ga cuma catering dan gedung plus MUA or WO aja yang kudu dipikirin. Tapi mesti mikir ke depannya gimana. Abis nikah mau tinggal dimana? Mau kemana2 naik apa? Mau punya anak berapa mau disekolahin dimana? Mau berkarir atau end up jd ibu rumah tangga and blablabla. There's so much more than that. So intead of thinking WHEN, why don't we start to think WHAT IF or HOW or WHAT'S NEXT?
Oke, sebenernya ini karena ku mulai sensi aja sih orang2 semakin banyak yang nanyain. Entah ga punya kerjaan lain atau emang sekepo itu pengen tau kapan. Ku cuma bisa jawab akan ada waktunya gaes. Kami pun punya rencana punya banyak pikiran2 bersama yang kayaknya ga harus diumbar juga sih detailnya.
No no bukan ku berkilah karena desperate gatau kapan. Hell NO. Aku typical yang selalu punya planning kok. Kalo kubilang semua ada waktunya ya berarti emang udah ada 'waktunya' cuma emang ga pengen ngumbar aja hehe.
-aku yang mulai muak ditanya terus-
Well, i know sih siapa juga yang gamau nikah di saat emang lagi banyak-banyaknya banget temen yang nikah. Including me. Ditanya mau ga nikah, ya jelas jawab mau. Tapi kalo ditanya kapan atau kenapa ga sekarang ya gimana woy aing masih sekolah :(
Kebetulan aku sebenernya udah ada calon (aamiin) tapi menikah atau tunangan dalam waktu dekat? Hmm sepertinya ga. Selain status yang masih belum paripurna jadi dokter, plus tuntutan ortu yang kepingin anaknya dapet gelar dulu sebelum nyebar undangan plus dana yang emang belum cukup buat nikah jadi yah gimanah emang belum bisa sekarang gitu. Orang mungkin mikir aku akan iri atau aku kebelet nikah juga atau aku mungkin sedih ga dinikah2in. WELL BEBAS DAH. Kenyataannya ga gitu juga. Iri sih udah punya pasangan tetap yang bisa diajak berbagi seumur hidup. Udah bisa menyempurnakan agama juga kalo nikah. Tapi ga sampe bersedih juga oy. Biasa aja....
Kenyataannya ku ngurus diri sendiri aja masih suka ga genah. Lagipula kuyakin menikah itu ga cuma sekedar party hip hip hura ala cinderella. Menikah lebih dari itu men. Ga cuma catering dan gedung plus MUA or WO aja yang kudu dipikirin. Tapi mesti mikir ke depannya gimana. Abis nikah mau tinggal dimana? Mau kemana2 naik apa? Mau punya anak berapa mau disekolahin dimana? Mau berkarir atau end up jd ibu rumah tangga and blablabla. There's so much more than that. So intead of thinking WHEN, why don't we start to think WHAT IF or HOW or WHAT'S NEXT?
Oke, sebenernya ini karena ku mulai sensi aja sih orang2 semakin banyak yang nanyain. Entah ga punya kerjaan lain atau emang sekepo itu pengen tau kapan. Ku cuma bisa jawab akan ada waktunya gaes. Kami pun punya rencana punya banyak pikiran2 bersama yang kayaknya ga harus diumbar juga sih detailnya.
No no bukan ku berkilah karena desperate gatau kapan. Hell NO. Aku typical yang selalu punya planning kok. Kalo kubilang semua ada waktunya ya berarti emang udah ada 'waktunya' cuma emang ga pengen ngumbar aja hehe.
-aku yang mulai muak ditanya terus-
Tuesday, November 15, 2016
Nothing last forever
Ada orang yang bilang "temen itu harus lebih diutamain daripada pacar, karena pacar bisa putus tapi temen selamanya"
Well let me tell you something, pacar emang bisa putus, tapi kalo pacar kemudian jadi pasangan hidup bakal beda lagi ceritanya. Emang kalo temen juga gabisa ribut sob? Bisalah. Di dunia ini ga ada yang abadi jadi gabisa kita ngejudge yang pacaran bakal putus yang temenan bakal selamanya.
Dan inget bukan temen-temen kamu yang nantinya bakal nemenin kamu seumur hidup, bukan temen-temen kamu yang nantinya bakal berjuang mengais rezeki demi bisa menghidupi keluarga, bukan temen-temen kamu yang nantinya bakal ngerawat anak-anak kamu, bukan temen-temen kamu yang nantinya bakal ngurusin kamu ketika kamu sakit atau udah gabisa apa-apa, dan bukan temen kamu juga yang selalu mendoakan kamu di setiap solatnya.
So, perlakuan seseorang sebagaimana mestinya. Jangan berlebihan tapi jangan juga seenaknya.
Well let me tell you something, pacar emang bisa putus, tapi kalo pacar kemudian jadi pasangan hidup bakal beda lagi ceritanya. Emang kalo temen juga gabisa ribut sob? Bisalah. Di dunia ini ga ada yang abadi jadi gabisa kita ngejudge yang pacaran bakal putus yang temenan bakal selamanya.
Dan inget bukan temen-temen kamu yang nantinya bakal nemenin kamu seumur hidup, bukan temen-temen kamu yang nantinya bakal berjuang mengais rezeki demi bisa menghidupi keluarga, bukan temen-temen kamu yang nantinya bakal ngerawat anak-anak kamu, bukan temen-temen kamu yang nantinya bakal ngurusin kamu ketika kamu sakit atau udah gabisa apa-apa, dan bukan temen kamu juga yang selalu mendoakan kamu di setiap solatnya.
So, perlakuan seseorang sebagaimana mestinya. Jangan berlebihan tapi jangan juga seenaknya.
Monday, September 12, 2016
Wednesday, August 31, 2016
Saturday, June 18, 2016
Ketika pukul 1 pagi.
Jam dinding mengisyaratkanku untuk segera bergegas ke alam mimpi. Tapi aku masih belum ingin memejamkan mata ini. Antara keinginan yang belum ada atau karena pikiran yang menggangguku malam ini. Aku rindu rumah. Rindu keluargaku. Aku pikir aku akan baik-baik saja berbulan-bulan tidak pernah menginjakkan kaki di rumah. Ya, hampir 1 semester aku tak pulang. Kesibukan dan jadwal yang tidak memungkinkanku pulang sudah membuatku tertahan di kota ini lebih lama dari biasanya. Aku menangis malam ini. Entah karena aku begitu emosional menghadapi kondisi kesehatanku yang sedang tidak baik menjelang sidang hasil atau karena aku terlalu sedih menghadapi ini sendirian tanpa keluargaku. Aku ingin berpuasa di rumah. Ingin menyantap sahur bersama keluargaku yang selalu terburu-buru makan karena persiapan yang mepet imsak. Aku ingin meneriaki adikku yang susah sekali bangun meski alarm terus menerus berbunyi. Aku ingin bertengkar dengan kakakku soal siapa yang harus cuci piring hari itu. Dan berbagai hal yang menjadi ciri khas keluargaku di setiap bulan suci ini.
Menjelang pukul 2 pagi.
Aku berdoa kepada Tuhan, untuk memudahkanku menyelesaikan tugas yang masih harus kuselesaikan di kota ini agar aku dapat segera pulang dan berkumpul bersama keluargaku lagi. Aamiin :)
Jam dinding mengisyaratkanku untuk segera bergegas ke alam mimpi. Tapi aku masih belum ingin memejamkan mata ini. Antara keinginan yang belum ada atau karena pikiran yang menggangguku malam ini. Aku rindu rumah. Rindu keluargaku. Aku pikir aku akan baik-baik saja berbulan-bulan tidak pernah menginjakkan kaki di rumah. Ya, hampir 1 semester aku tak pulang. Kesibukan dan jadwal yang tidak memungkinkanku pulang sudah membuatku tertahan di kota ini lebih lama dari biasanya. Aku menangis malam ini. Entah karena aku begitu emosional menghadapi kondisi kesehatanku yang sedang tidak baik menjelang sidang hasil atau karena aku terlalu sedih menghadapi ini sendirian tanpa keluargaku. Aku ingin berpuasa di rumah. Ingin menyantap sahur bersama keluargaku yang selalu terburu-buru makan karena persiapan yang mepet imsak. Aku ingin meneriaki adikku yang susah sekali bangun meski alarm terus menerus berbunyi. Aku ingin bertengkar dengan kakakku soal siapa yang harus cuci piring hari itu. Dan berbagai hal yang menjadi ciri khas keluargaku di setiap bulan suci ini.
Menjelang pukul 2 pagi.
Aku berdoa kepada Tuhan, untuk memudahkanku menyelesaikan tugas yang masih harus kuselesaikan di kota ini agar aku dapat segera pulang dan berkumpul bersama keluargaku lagi. Aamiin :)
Subscribe to:
Posts (Atom)

